Rabu, 13 Agustus 2008

The Only Wedding Day

Conflict, Tension,Resolution : resolutemusic.com

Conflict,tension,resolution. Tiga hal ini yang membawa saya berani membuat resolutemusic.com , web music yang royalty-free music. Yang Free alias gratis bukan download-nya tapi music-nya. Ada banyak konflik dalam pemikiran saya selama ini. Mencoba kemunculan digital kiosk disc tarra diluar ekspektasi.Tidak ada differensiasi dengan download kiosk music lain semisal Digital Beat, bahkan kios di toko-toko HP roxy mas. Growth dari Import dan Equinox DMD juga tidak menggembirakan. Ella teman saya bilang kalo dia susah beli musik mp3 indo sampai-sampai dia berlangganan music download website dari rusia. Dia juga heran kok baru denger Equinox DMD dan tambah heran lagi bahwa TOP 1 Album Selling di sana adalah Indo-Arabian Music alias musik gambus.Equinox DMD adalah reseller Itunes untuk katalog lagu dari Indonesia. Sebuah Focus Group telah dilakukan mengenai shopping music online dengan mendownload mp3. Audience berpendapat bahwa meraka gak mau bayar untuk download MP3, kalaupun bayar mereka akan patungan untuk mendownload MP3 lagu Slank. Inilah konflik antara Paid Download dengan P2P Sharing.
Conflict yang terjadi ini menyulut tensi diantara musisi. Arif, Pentolan Grup Ten to Five,berbicara pada saya bahwa ia berencana go indie label untuk album terbaru mereka.Selama ini Arif juga gak nyaman dengan kondisi pembajakan CD dan juga p2p sharing sehingga ada resolusi untuk rekaman indie label tanpa menjual keping CD Audio dan juga MP3.
Saya juga punya tensi sendiri karena saya yakin bahwa bisnis musik saat ini is beyond music, ini saya kutip dari perkataan maestro Simon Fuller dalam wawancaranya di Billboard Mag. Resolusi saya sekarang ini adalah berupaya berpaling dari bisnis Equinox, import, Disctarra digital kios. Resolutemusic.com bermain di lahan sendiri, ia dibuat untuk berkonvergensi dengan konteks seperti video dan gambar. Download tetap bayar, tapi musiknya itu sendiri royalty-free. Seperti apakah nanti resolutemusic.com? Doakan saya semoga semua tahapan dari development hingga financing lancar.

Rabu, 06 Agustus 2008

Usir Paksa Rumah Jasindo Mampang

Jumat, 01 Agustus 2008

We Are family

Kamis, 31 Juli 2008

Hipotesa tentang Demokratisasi Investasi

Adanya You Tube , hulu, dan juga animoto membuat semua orang bisa menjadi sutradara video,bintang video/film, dan produser video/film. Photo Shop sudah menjadi software rumahan untuk sekedar mengedit image dalam kamera digital yang sudah semakin merakyat. Para pencipta lagu dan juga jingle menjamur dengan audio track yang mudah dibuat di PC rumahan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Inilah fenomena dari demokratisasi produksi di era digital ini sehingga bukan hanya “everyone can fly” yang ada di Airport, tapi “everyone can produce “ juga.
Pekerja adalah salah satu faktor produksi dalam ekonomi. Disamping itu ada faktor modal.Bagaimana wujud modal dalam demokratisasi produksi di era digital ini? Apakah modal sama seperti era-era sebelumnya yang kebanyakan berupa wujud uang dengan jumlah yang sangat besar. Pemilik modalnya juga biasanya disebut sebagai pengusaha atau pemodal atau konglomerat, terbatas dari segelintir kelas atas di Indonesia ini.Apakah ini dapat disebut sebagai demokratisasi investasi?Jika berkaca pada demokratisasi produksi sepertinya bentuk investor seperti itu tidak sesuai dengan semangat demokratisasi yang dimaksud. Saya lebih suka menyebutnya sebagai Demokratisasi Investasi, dimana semua orang bisa berinvestasi atas output dari demokratisasi produksi yang ada. Semua orang berarti mereka calon investor diluar para tauke kelas atas, mereka bisa disebut pemilik modal lemah , yang saking lemahnya duit investasinya diambil dari seluruh tabungan selama mereka bekerja yang akan memperlemah resiko hidup mereka.
Berapa sih besaran demokratisasi investasi ini? kita bisa ambil contoh dari Investment Club di Kampus. Para Mahasiswa berkelompok menanamkan modalnya melakukan investasi saham. Pembelian saham satu perusahaan adalah minimal 1 lot (500 lembar saham).Sebelumnya investor harus punya account di perusahaan sekuritas yang mensyaratkan minimal transaksi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Seorang Mahasiswa dengan dana terbatas pasti sulit memenuhi syarat –syarat tersebut. Sehingga dia harus mengajak teman-temannya berpatungan demi memenuhi syarat-syarat tersebut dimana nanti hasil investasinya juga dibagi proporsional diantara mereka.
Hipotesa saya adalah : adanya demokratisasi produksi bisa mendorong bentuk demokratisasi investasi.Bukan hanya dalam pembelian saham melalui perusahaan sekuritas, tapi juga objek investasi lainnya. Saya sudah memikirkan beberapa hal dari objek demokratisasi investasi ini.Apakah Kamu tertarik memikirkannya juga? lets discuss.Bisa jadi hipotesa saya benar.

Senin, 28 Juli 2008

Gunung Pinang : Memang trek sepeda DOWNHILL

Minggu 27 Juli 2007, ke arah Cilegon dari Jakarta tampaklah perbukitan Gunung Pinang dengan banyak Tower telekomunikasi, itulah sekilas panduan menuju Trek bersepeda bernama Gunung Pinang.Rombongan saya 3 mobil berangkat minggu pagi jam 06.30 dari Gading Serpong.Saya sempat tertinggal rombongan dan akhirnya keluar pintu tol lebih jauh di Serang Timur.Namun ternyata jarak ke meeting point di rumah Pa Subianto dan Pa Luthfi lebih dekat dari pintu tol ini daripada keluar di Serang Barat, namun tarifnya lebih mahal Rp 1500,-.
Sepeda kami rakit di perumahan Pejaten Mas Estate, disambut empunya rumah Pak Subianto dengan keramahan dan teh manis hangat dan juga tukang bubur ayam. Setelah selesai sarapan bubur . kami ber-8 genjot sepeda bareng ke start point di rumah Pak Lutfi, tidak seberapa jauh dari Pejaten Mas. Disana puluhan bikers sudah ramai, tua muda, laki2 perempuan. yang muda adalah anak-anak SMP yang rupanya di-kompori dan di-racuni Bapak-nya bersepeda. Enak banget kalo punya Bapak kayak gitu, minta sepeda Down Hill harga 20-an juta pasti dikasih :)
Perjalanan seru sekali, trek gunung pinang memang asyik, selain hawanya yang sejuk juga banyak trek yang teknikal mebutuhkan konsentrasi tinggi. Banyak drop off, undakan tangga, tikungan tajam. Konsentrasi dan stamina adalah kuncinya. Saya sendiri terjatuh 2 kali. Yang pertama adalah terlena oleh jalur turunan sehingga pada saat sebelum tikungan telat melakukan pengereman, akibatnya tergelincir dan tidak ada cedera berarti. Yang kedua ini terjadi di jalur downhill yang katanya bersimpangan dengan jalur DH1 yang sering dipake perlombaan.Namun keasyikan menikmati adrenalin saat downhill, rolling,saya lihat rekan di depan berbelok kiri, saya siapkan pengereman, namun ternyata mereka belok kiri di depan untuk berhenti...ya nasib..menghindari bertabrakan dengan rekan-rekan di depan, sepeda saya lepas , dan badan saya terjerembab lagi persis di depan saya ada portal dari pohon besar. Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya namun seketika sepeda saya sudah ada di belakang pandangan saya, dengan reflek saya berhasil melindungi tubuh dari hantaman sepeda saya sendiri dengan tangan kanan menangkap frame tube, berhasil, layaknya Buffon menangkap bola muntah ke gawangnya.Walhasil hanya dengkul yang lecet karena bergesekan dengan tanah pada saat terjerembab, serta jari manis kanan yang bengkak karena menangkap frame.Saya bangun dan baru sadar bahwa rombongan berhenti tepat di depan saya karena ada salah satu anak SMP yang ban depan sepedanya pecah di trek dan si anak terluka cukup serius terlihat dari memar di tulang kering dan banyaknya cipratan betadine di daerah tersebut.Semakin banyak aja korban di trek Gunung Pinang ini.
Menuju finish teman saya Coki terjatuh saat drop off persis di rombongan depan saya, tidak cedera serius karena itu drop off pendek.Beberapa KM ke depan kaki saya pun keram, pertama yang kanan, berhenti sebentar dibantu Om Pur yang siap siaga dengan emergency kit can-nya. Genjot lagi dan keram lagi kali ini kedua kaki saya. Om Pur bilang saya kecapean, kurang garam, harus minum sebangsa pocari sweat. Saya minumlah Pocari Sweat yang tersisa di botol air. Mulai genjot lagi dan beberapa menit kemudian sudah sampe di Finish pintu masuk Gunung Pinang. Istirahat lah dulu.
Setelah minum teh botol , beberapa rekan berencana naik lagi ke Trek DH di Gunung Pinang dengan menyewa mobil pick-up. Saya tidak mau ikut, cape sekali badan ini, takut hilang konsentrasi kalo ikutan downhill lagi di trek yang dirancang untuk perlombaan itu.
Beberapa rombongan pulang ke rumah Pak Lutfi karena makan siang sudah menanti, lainnya naik ke atas pick-up.Sesampai di rumah PAk Lutfi dan makan siang pepes lele yang uenak sekali, ada kabar bahwa Iponk, salah satu teman rombongan saya mengalami patah tulang terjatuh di trek.Lalu ada kabar lagi pelek depan rekan satunya lagi spelleng (bengkok).Wah...heboh juga mereka mainnya, apa karena trek-nya yang ganas?Namun pelajarannya adalah sbb:
1.Untuk menjajal trek DH beneran seperti Gn Pinang ato SEBEX , konsentrasi dan pasti stamina sangat diperlukan. Iponk pasti sudah kelelahan dan memaksakan diri
2.Ditambah lagi spek sepeda yang digunakan Iponk adalah BUKAN untuk Downhill(DH) tapi XC(Cross Country).Secara langsung tidak langsung mempengaruhi performa dan tingkat keamanan di Trek. Ini juga terlihat dari pelek yang spelleng yang memang pelek itu bukan spek DH yang tebal dan berdimensi besar, sehingga tidak kuat dihantam ganasnya trek DH Gunung Pinang.
Setelah rentetan kejadian ini ada banyak pilihan buat saya:upgrade ke frame dan komponen DH atau tetap setia dengan LOUIS GARNEAU XC BART PRO saya tercinta.Saya pilih yang terakhir saja ah!untuk saat ini.

Kamis, 17 Juli 2008

Platini on Salary Cap

Dalam satu kesempatan membacakan Keynote Speech di forum Council of minister of foreign Affair di Brest, Platini mendengungkan regulasi untuk transfer pemain berumur dibawah 18thn dan tentang penerapan salary cap atau squad cap.Platini menunjukkan dokumen draft tentang larangan transfer pemain dibawah umur 18 thn dari gabungan tim olahraga Eropa -basket ball,volley ball, handball, ice hockey, rugby union and football.lalu bagaimana dengan salary cap? apakah reaksi dari pemain dan pemilik klub mengenai hal ini.
Mari kita lihat persoalan yang sama di kompetisi olahraga seperti NBA, NFL, NHL. Pedoman dari salary cap pada kompetisi diatas adalah kumpulan pendapatan dari seluruh liga.Pendapatan secara nasional seperti pendapatan hak siar untuk satu liga dan ditambah pendapatan local dari tiap klub. Angka itu di-pool dan kalikan dengan besaran persentase tertentu dan dibagi dengan banyaknya jumlah klub tergabung. Misal total pool adalah 5 milyar rupiah dari 10 klub dengan persentase yang digunakan adalah 70%, maka salary cap tiap klub adalah 350 juta per klub.Hal ini bermasalah besar bagi tim kecil karena akan kesulitan jika pemain draft yang diincar meminta gaji besar padahal pendapatan mereka kalah jauh dari tim besar,apalagi salary cap antar mereka adalah sama.
Platini melalui penasihatnya di UEFA William Gaillard mengatakan :

"It could be 55%, 60%, 65% - Karl-Heinz Rummenigge [chairman of the new European Club Association] has talked recently about 50-55%.

Dalam hal ini Platini membuat squad cap untuk klub - klub sepakbola eropa dimana batas atas gaji pemain dihitung sebagai persentase dari total pendapatan klub tersebut.Klub besar akan mempunyai squad cap yang besar pula namun terbatas dalam memasukkan pemain bintang dalam skuad mereka karena adanya batas atas dari salary pemainnya.Bagi klub kecil yang memang dari dahulu sangat terbatas budget salary dan pilihan skuadnya, hal ini bisa jadi secercah harapan dalam mengelola pendapatan dan pengeluaran klub. Strategi awal sebagai nurturing club bisa menjadi loncatan untuk contender club karena peluang keberuntungan dari pemain bintang yang tidak bisa masuk dalam salary cap klub besar, sehingga agennya akan mencoba mencari klub lain yang salary cap-nya masih lowong. Tentunya jika ini terjadi maka pertarungan contender dengan BIG FIVE akan semakin ramai, penonton pun senang karena tidak bosan melihat klub itu-itu saja yang menang.
Semoga saja harapan Platini untuk lebih meningkatkan nilai jual kompetisi sepakbola Eropa tidak mengalami permasalahan seperti halnya salary cap di NBA dan NFL.Selamat bekerja Mr. Platini.